Lewati ke konten utama
menu_classic_indonesia


Neuropati Perifer - Definisi, Jenis, dan Pengobatannya


Apakah Anda sering mengalami kesemutan atau tubuh berkeringat tanpa alasan? Jangan anggap enteng karena bisa jadi ini adalah gejala awal kerusakan pada sistem saraf tepi atau neuropati. Sayangnya banyak orang yang masih belum familiar dengan gangguan kesehatan sistem saraf sehingga sering menganggap gejala yang terjadi karena kelelahan saja.

Padahal neuropati mulai memunculkan gejala jika neuron atau sel-sel saraf mengalami kerusakan dengan penyebab yang terbilang cukup bervariasi. Sebagai referensi kesehatan Anda dan orang-orang terdekat, ketahui beberapa poin penting terkait dengan masalah medis yang satu ini.



Sekilas Tentang Neuropati Perifer


Sekilas Tentang Neuropati Perifer


Sebelumnya Anda perlu tahu terlebih dahulu mengenai sistem saraf tepi untuk memahami neuropati perifer. Ini adalah jaringan rumit sel saraf perifer yang menghubungkan otak, sumsum tulang belakang, otot, kulit, hingga organ dalam.

Selanjutnya ada yang disebut dermatom, yaitu saraf perifer yang berada di luar sumsum tulang belakang dan tersusun sepanjang garis dalam tubuh. Biasanya, gangguan pada saraf juga akan berdampak pada sebuah atau lebih dari satu dermatom.

Saraf yang bertugas membawa pesan ke dan dari otak dan sumsum tulang belakang dari dan menuju seluruh tubuh bisa sakit atau rusak. Inilah yang kemudian disebut neuropati perifer. Kerusakan tersebut membuat komunikasi antara otak dan bagian tubuh lainnya terganggu.

Salah satu efeknya misalnya sinyal sakit tidak sampai ke otak walaupun terjadi sesuai yang menyakitkan tubuh. Kondisi yang sebaliknya juga dapat terjadi, yaitu sinyal sakit terkirim ke otak saat tubuh sebenarnya baik-baik saja.

Neuropati atau neuropati perifer bisa terjadi pada semua orang, namun mereka yang berusia di atas 55 tahun mempunyai peluang lebih besar untuk terserang. Gejala yang timbul bisa berupa gangguan otot, rasa sakit dan tidak nyaman, kesemutan, sampai mati rasa.

Jenis Neuropati Perifer



Penggolongan neuropati umumnya berdasarkan pada tingkat kerusakan atau pangkal kerusakan saraf, yaitu mononeuropati dan polineuropati.

Mononeuropati


Mononeuropati merupakan kerusakan pada saraf perifer tunggal atau hanya pada sebuah saraf tepi. Pemicu terbanyak adalah trauma akibat kecelakaan atau cedera fisik, sementara penyebab lainnya karena saraf yang tertekan terlalu lama.

Ini misalnya pada pasien yang bedrest atau menggunakan kursi roda dalam waktu lama.

Aktivitas tangan berulang dalam jangka waktu lama juga dapat memicu mononeuropati perifer. Kondisi ini disebut Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang disebabkan tekanan pada saraf yang tersebar mulai pergelangan hingga telapak tangan. Kasus yang kerap terjadi adalah pada pekerja kantoran yang menggunakan PC setiap hari, musisi, pekerja perakitan, atau pekerja salon.

Tanda-tandanya adalah mati rasa, kesemutan, panas dan nyeri pada jari tangan yang lama-kelamaan bisa menyebar hingga ke lengan dan bahu. Penderita juga kerap terjaga di malam hari karena munculnya sensasi kebas pada tangan. Pada kondisi yang kian parah otot-otot tangan penderita dapat semakin melemah.

Selain Carpal Tunnel Syndrome (CTS), mononeuropati berikut juga dapat menyebabkan kelemahan pada tangan dan kaki:

  • Kelumpuhan saraf ulnaris yang berada di siku dengan gejala mati rasa pada jari ke 4 dan 5.
  • Lumpuh pada saraf radial atau saraf yang terdapat di sepanjang bagian bawah lengan atas, serta disebabkan patah tulang humerus di bagian atas lengan.
  • Kelumpuhan saraf peroneal terjadi ketika saraf di bagian atas betis di bagian luar lutut tertekan. Akibatnya penderita kesulitan untuk mengangkat kakinya atau sering disebut foot drop.

Bahaya neuropati adalah dapat menimbulkan efek samping berat pada saraf motorik dan saraf sensorik. Saraf motorik seperti yang kita ketahui bertugas mengendalikan pergerakan otot. Sementara saraf sensorik berfungsi untuk merespon sensasi misalnya sakit, dingin, panas, dan seterusnya.

Beberapa kondisi mononeuropati juga berdampak pada organ dalam penting seperti jantung, kandung kemih, usus, dan pembuluh darah. Kasus yang terbilang langka ini disebut sebagai neuropati otonom yang biasanya ditunjukkan dengan gejala masalah keringat dan tekanan darah rendah.

Polineuropati


Lawan dari mononeuropati adalah polineuropati dan lebih banyak orang yang mengalami hal ini ketimbang mononeuropati. Polineuropati terjadi saat beberapa saraf perifer pada seluruh tubuh kita tidak berfungsi secara bersamaan.

Umumnya gangguan kesehatan ini banyak terjadi pada penderita diabetes sehingga sering disebut neuropati diabetic dengan gejala khas kehilangan sensasi rasa di kaki dan tangan. Jika kadar gula darah penderita diabetes tidak terkontrol, gejala neuropati umumnya juga semakin parah.

Hilangnya kemampuan untuk merasakan suhu dan rasa sakit bisa membuat penderita terluka tanpa disadari. Akibatnya luka bisa kian parah dalam waktu singkat bahkan berkembang menjadi gangrene.

Selain karena diabetes beberapa penyebab lain juga dapat memicu polineuropati. Ini antara lain malnutrisi terutama defisiensi/kekurangan vitamin B, komplikasi penyakit ginjal dan kanker, dan kecanduan alkohol.

Neuropati juga dapat terjadi pada saraf yang bertanggung jawab pada kinerja organ yang berkaitan dengan sistem ekskresi. Jika sudah demikian, penderita bisa kehilangan kontrol pada aktivitas BAK dan BAB-nya. Diare, sembelit hingga disfungsi seksual juga bisa terjadi.

Dari sekian banyak pemicu, polineuropati yang cukup serius berkaitan dengan penyakit autoimun sindrom Guillain-Barre. Penyakit langka ini bisa secara tiba-tiba membuat imunitas tubuh penderita menyerang saraf saat meninggalkan sumsum tulang belakang.

Yang bersangkutan pada awalnya akan mengalami gejala awal kesemutan yang dapat memburuk dengan cepat hingga mengakibatkan kelemahan dan kelumpuhan. Selain itu pasien biasanya juga akan mengalami masalah kesehatan lain pada organ-organ pentingnya.

Ini misalnya gangguan irama jantung, sesak napas, hingga masalah tekanan darah.



Pengobatan Neuropati



Metode untuk mengobati neuropati tentu saja tidak seragam melainkan melihat dari keparahan kerusakan saraf. Untuk kasus yang ringan dokter akan merekomendasikan menerapkan gaya hidup sehat termasuk istirahat yang berkualitas.

Beberapa pasien mungkin juga membutuhkan obat-obatan anti nyeri atau anti kejang, antidepressant, serta krim atau pengobatan topikal. Dokter juga dapat menerapkan terapi fisik, pembedahan, terapi okupasi, serta penggunaan alat bantu mekanik seperti penyangga kaki atau sepatu khusus sesuai kondisi.

Pemberian vitamin neurotropik yang merupakan kombinasi antara vitamin B1, B6, dan B12 juga dapat membantu meringankan gejala serta mengurangi ketidaknyamanan. Selain itu vitamin neurotropik juga terbukti mempunyai efek perbaikan pada sistem saraf tepi.

Yang perlu diingat, diagnosis sedini mungkin dapat memberi Anda peluang kesembuhan yang lebih besar dari gangguan kesehatan neuropati.

BACA SELENGKAPNYA

    • Share On: